Bos RNF Racing, Razlan Razali sebelumnya sempat mengutarakan bahwa keputusan tersebut murni bisnis.
"Menjalankan tim MotoGP pada akhirnya adalah bisnis," ungkap Razali kepada Crash, seperti dikutip SportFeat dari Todocircuito.
"Strategi jangka panjang dengan pengeluaran modal yang besar," lanjut pria Malaysia itu.
Baca Juga: Meski Masa Depannya Belum Jelas, Takaaki Nakagami Harusnya Bisa Bernafas Lebih Lega Berkat Kabar Ini
Razlan juga menjelaskan mengapa timnya memutuskan berpisah dengan Yamaha di akhir MotoGP 2022.
Menurut dia, sebagai tim satelit seharusnya mendapat kontrak minimal tiga tahun.
Akan tetapi, hal tersebut tak didapatkan timnya saat bernegosiasi dengan Yamaha.
"Biasanya kontrak antara tim independen dan pabrikan minimal tiga tahun, seperti Yamaha dengan Petronas SRT sebelumnya," ungkap Razlan.
Baca Juga: Kejuaraan Dunia 2022 - Hendrawan Bongkar Tantangan Terbesar Pewaris Lee Chong Wei
"Kami tidak berhasil, tetapi kami membuat pengecualian tahun ini.
"Saya mengerti karena kami dianggap sebagai perusahaan rintisan.
"Tapi kami telah membuktikan diri kami tahun ini, jadi kami pikir, dengan apa yang mereka [Yamaha] lihat, apa yang telah diatur, kami bisa mendapatkan kontrak yang lebih panjang [untuk 2023]
"Karena kami tidak ingin masuk ke situasi di mana Juni atau Juli tahun depan dan kami tidak tahu, karena kami berada di tangan produsen.
"Jadi itu tidak cocok dengan strategi jangka panjang kami."
Source | : | Todocircuito.com,SportFEAT.com,Crash.net |
Penulis | : | Nuranda Indrajaya |
Editor | : | Nuranda Indrajaya |