Find Us On Social Media :

Ganda Putra Senior Malaysia Ini 'Bosan' dengan Sistem Undian dari BWF

Pasangan ganda putra Malaysia, Goh V Shem (kiri)/Tan Wee Kiong.

Tiga turnamen itu adalah Kejuaraan Dunia 2019, Korea Open 2019 dan Gwangju Korea Masters 2019. Di ketiga turnmaen itu, Goh/Tan selalu berthadapan dengan Ong Yew Sin/Teo Ee Yi.

Jika menilik lebih jauh, kedua pasangan tersebut juga saling bertemu di perempat final Thailand Masters 2019.

"Melihat daftar nama rekan senegara adalah hal yang tidak ingin kami lihat ketika hasil undian telah keluar," ucap Goh V Shem, dikutip SportFEAT.com dari The Star.

"Kami sudah berjumpa Yew Sin/Ee Yi empat kali (tahun lalu). Kami memang selalu menang dari mereka, tapi kami sama sekali tidak menikmati kemenangan itu,"

"Kami sangat tidak senang jika terus-terusan mengalahkan lawan senegara yang sama di suatu turnamen,"

"Rasanya lucu saja, dari 32 kontestan yang berlaga masa'kami selalu saja sering bertemu dengan Yew Sin/Ee Yi?" imbuhnya.

Baca Juga: Leo/Daniel dan Indah Cahya Sari Jamil Dinilai BWF sebagai Pemain Berprospek Tinggi

Sebagai ganda putra yang sudah cukup senior, Goh V Shem/Tan Wee Kiong memang cukup merasakan 'kebosanan' dengan lawan yang sama di setiap kompetisi.

Terlebih, mereka melihat hasil undian ganda putra lainnya juga terkesan selalu sama.

Hasil undian salah satu ganda putra senior asal Denmark, Mathias Boe/Mands Conrad-Petersen juga tak luput dari sorotan mereka.

"Tidak hanya kami ya, pasangan Denmark seperti Mathias Boe/Mads Conrad-Petersen tahun lalu juga selalu berjumpa Han Cheng Kai/Zhou Hao Dong (China) di babak pertama sebanyak empat kali," kata Goh.

"Bahkan tiga di antara pertemuan mereka terjadi pada tiga turnamen beruntun,"

"Saya benar-benar berharap BWF meninjau kembali sistem undian mereka. Mereka pernah bilang itu adalah hasil acak, tapi bagaimana bisa ada begitu banyak hasil undian yang sama dengan label kebetulan?" kata Goh lagi.

Kendati mengkritik soal sistem undian BWF, Goh V Shem sendiri juga 'menawarkan' solusi untuk mengatasi masalah tersebut.

"Ada baiknya jumlah unggulan ditambah lagi, menjadi 16 unggulan, seperti pada sistem sebelumnya (sebelum World Tour)," terang Goh.

"Misalnya seperti kasus kami sendiri, Aaron/Wooi Yik peringkat kedelapan, sedangkan kami peringkat ke-10. Maka kami seharusnya tidak boleh saling berjumpa di babak pertama,"

"Kalau mempertahankan sistem sekarang, pemain top bisa saja bertemu pemain peringkat kesembilan, tapi pemain peringkat ke-20 malah bertemu peringkat ke-30,"

"Kalau seperti ini sistemnya, ini akan melemahkan setiap babak di turnamen itu sendiri," tukas dia.

(*)

 
 
 
View this post on Instagram
 
 

Mou ingin VAR diganti namanya. . #tottenham #mourinho #ligainggris #premierleague #gridnetwork

A post shared by BolaSport.com (@bolasportcom) on